Pondok Pesantren BESUK

Click here to edit subtitle

 

 

Click here to edit text.

7 Hari Wafatnya Al-Marhumah Ibu Nyai Hj. Halimatus Sa’diyah

Bersama Al-Habib Ali Abdullah Bin Syeikh Abu Bakar

 

“Apakah yang memasukkan kamu ke dalam Saqar ? Mereka menjawab ‘Kami dahulu tidak termasuk orang-orang yang mengerjakan shalat dan kami tidak memberi makan orang miskin dan adalah kami membicarakan yang bathil bersama dengan orang-orang yang membicarakannya dan adalah kami mendustakan hari pembalasan hingga datang kepada kami kematian’.”

 

Banyak orang tertawa tanpa mau menyadari bahwa kematian sedang mengintainya, banyak orang berbicara seolah hari penghisaban tak akan mendatanginya dan banyak pula orang berbuat seolah surga dan neraka hanyalah janji-janji belaka. Kematian bukanlah akhir dari segalanya, tapi kematian adalah awal dari kehidupan yang sesungguhnya. “Tidak ada yang kekal di dunia ini” demikianlah yang disampaikan Habib Ali Abdullah bin Syeikh Abu Bakar kepada ratusan orang yang hadir dalam pembacaan surat Yasin dan tahlil di Masjid Pondok Pesantren Besuk dalam memperingati 7 hari wafatnya Al-Marhumah Ibu Nyai Hj. Halimatus Sa’diyah binti Subadar.

 

Al-Marhumah Ibu Nyai Hj. Halimatus Sa’diyah binti Subadar adalah ibunda KH. Jusbakir (mantan bupati Pasuruan). KH. Jusbakir adalah anak sematawayang dari Al-Marhumah yang wafat mendahului ibunya. Al-marhumah wafat pada malam senin, 18 R. Tsani 1433 H. Lantunan surat surat yasin dari ribuan santri putra dan putri mengumandang mengudara mengiringi kepergiannya. Isak tangis dan cucuran air mata mengalir dari pelupuk mata keluarga serta orang yang mencintainya. Ribuan orang pun berdatangan untuk bertakziyah. Sepintas hati terasa sedih tapi apalah daya tatkala yang Maha Kuasa memanggilnya. Hanyalah panjatan do’a rahmat dan ampunan senantiasa menyertainya. Hingga akhirnya jasad beliau pun dikebumikan pada hari senin, 11.30 wis setempat.

 

Salah seorang pengajar di Pondok Pesantren Darul Musthafa, Tarim Hadramaut Yaman menghadiri peringatan 7 hari wafatnya Al-Marhumah Ibu Nyai Hj. Halimatus Sa’diyah dan berkata “Betapa senangnya Halimah saat ini” demikian ini karena beliau mendapati ratusan orang berkumpul memadati Masjid Pondok Pesantren Besuk sedang membaca surat Yasin dan Tahlil yang hadiah pahalanya diberikan kepada Al-Marhumah. Dialah Al-Habib Ali Abdullah bin Syeikh Abu Bakar yang mengahadiri haul Solo kemarin.

 

Habib Ali Abdullah bin Syeikh Abu Bakar  merupakan tangan kanan dari ulama' kondang yang tersohor, yaitu Al-Habib Umar bin Hafidz, Pengasuh Pondok Pesantren Darul Musthofa, Tarim Hadramaut. Tarim adalah salah satu kota tertua di Yaman yang menjadi sangat terkenal di seluruh penjuru dunia dengan berlimpahnya para ilmuwan dan para alim ulama’ yang dihasilkan kota ini selama berabad-abad. Ratusan hingga ribuan wali dan ulama’ bahkan yang sudah sampai pada derajat mufti berhasil diproduksi dari kota Tarim ini.

 

Kehadiran ulama’ tersohor dari Yaman di Pondok Pesantren Besuk bukanlah hal yang baru. Sebelumnya beberapa ulama’ Yaman pernah memberikan tausiyahnya di Masjid Pondok Pesantren Besuk, seperti Sulthonul Ulama’ Al-Habib Salim bin Abdullah bin Umar Asy-Syathiri,  pengasuh Pondok Pesantren Rubath, Tarim Hadramaut yaman yang merupakan maha guru dari Ust. H. Mas Aris Alwan bin KH. Muhammad Subadar.

 

Al-Habib Ali  Abdullah bin Syeikh Abubakar menghadiri acara peringatan 7 hari wafatnya Al-Marhumah Ibu Nyai Hj. Halimatus Sa’diyah di Masjid Pondok Pesantren Besuk sekitar jam 09. 30 wis, bersama putranya, Al-Habib Muhammad Abu Bakar dan segenap rombongan ditengah lantunan bacaan surat Yasin. Kedatangan Beliau disambut dengan gembira oleh para masyayikh Besuk.

 

Adalah  Al-Habib Abubakar bin Hasan Assegaf (Pasuruan), seorang dai muda yang gigih dalam berdakwah yang materi ceramah-ceramahnya telah diterima dengan luas di kalangan Habaib dan muhibbin di Jawa Timur  memperkenalkan KH. Muhammad Subadar Pengasuh Pondok Pesantren Besuk yang ad-da’i ilallah, assholikh, dan nasyrul ‘ilm kepada Al-Habib Ali Abdullah bin Syeikh Abu Bakar dengan bahasa arab yang fasih.

 

Tausiyah Habib Ali Abdullah bin Syeikh Abu Bakar dialihbahasakan oleh Muhammad Ibrohim Fathoni yang senantiasa setia mendampingi Habib Ali. Kedap sinar jepretan kamera nampak sibuk mengabadikan kedatangan tamu yang amatlah istimewa ini. Buletin Al-Fikrah pun menerjunkan tim-tim terbaiknya untuk mengemas intisari dari kalam Habib Ali untuk disajikan kepara para pembaca yang setia.

 

Beliau memulai ceramahnya dengan memuji kepada Allah swt yang diiringi do’a semoga Allah menerima amalan lantunan surat yasin dan tahlil yang belum lama mengumandang. Kemudian beliau mengatakan kalau Al-Marhumah Ibu Nyai Hj. Halimatus Sa’diyah sangat senang dengan pahala dari bacaan surat Yasin, tahlil dan dan lain sebagainya yang pahalanya dihadiahkan kepada Al-Marhumah. Dan bahkan nama Al-Marhumah membawa kalam Habib Ali kepada Halimatus Sa’diyah yang menyusu kepadanya seorang kekasih Allah Muhammad saw. “Halimatus Sa’diyah adalah wanita yang menyusui baginda Nabi Muhammad saw.” Tutur beliau. Dari sini beliau berpesan untuk memperbanyak membaca sholawat  atas Nabi Muhammad saw dan menjelaskan keutaman-keutaman bersholawat yang akan  kembali kepada orang yang bersholawat. “Sesungguhnya penduduk surga itu memperluas surganya dengan bersholawat kepada Nabi saw. Barang siapa yang ingin menguasai surga maka hendaklah memperbanyak bersholawat kepada nabi” petuah beliau kepada para hadirin.

 

Habib Ali mengatakakan kalau mati itu adalah merupakan sebuah kenikmatan bagi seorang mukmin. “Orang mukmin yang hakiki adalah senang dengan kematian” ungkap Habib Ali. “Adapun orang mukmin yang bermaksiat maka dia takut akan kematian” imbuh beliau. Habib Ali mencontohkan orang mukmin yang hakiki dengan Sayyidah Fathimah binti Rosulillah saw. Menurutnya, Sayyidah Fathimah tersenyum ketika mendengar bisikan dari Rosululloh tidak lama sebelum wafatnya Rosululloh saw. Demikian ini karena isi dari bisikan tersebut mengatakan kalau Sayyidah Fathimah adalah keluarga yang pertama menyusul Rosululloh (wafat). Dan tidak lama kemudian Sayyidah Fathimah wafat.

 

Lantas Habib Ali mengajak para hadirin untuk berkenan kembali ke jalan yang diridloi Allah swt dan meningkatkatkan kwalitas cintanya kepada Rosululloh saw. Habib Ali  menuturkan betapa besarnya cintanya Rosululloh saw kepada umatnya. Hingga pada akhir hayatnya, kata-kata yang keluar dari diri Rosululloh adalah “Ummati, Ummati, Ummati”.  “Setiap malam Rosul menangis untuk kita, setiap malam Rosul memintakan kita ampunan kepada Allah” tutur beliau. “Siapa yang memberikan syafa’at dihari qiamat?” imbuhnya. Oleh karena tidak ada salah seorang pun yang dapat memberikan syafa’at di hari qiyamat selain Rosulullah Muhammad saw, Habib Ali mengajak para hadirin untuk memperbanyak bersholawat kepada Nabi dan berakhlaq sebagaiman akhlaqnya Nabi.

 

Selain itu, Habib Ali juga berpesan untuk bersungguh-sungguh dalam menuntut ilmu. Lantas beliau berkata “Barang siapa yang telah datang kepadanya kematian maka tidaklah ada diantaranya dan diantara para nabi melainkan sama derajatnya”. “Tidak ada yang kekal di dunia ini” imbuh Habib Ali.

 

Dan adalah Habib Ali berpetuah kepada para hadirin untuk zuhud terhadap dunia. “Seandainya Allah menjadikan kita untuk dunia niscaya Allah saw akan memerintahkan kita untuk mencari dan memperbanyak dunia. Rosululloh pun niscaya juga akan memperbanyak dunia. Tapi, lihatlah bagaimana Rosululloh saw. Sesekali Beliau tidak makan secuil makanan dan tidak meneguk setetes air selama tiga hari, bahkan beliau mengganjal perutnya dengan batu. Padahal jika Rosululloh saw berkehendak, maka Rosululloh saw akan mengambil makanan dari surga” ungkap Al-Habib Ali Abdullah bin Syeikh Abu Bakar.

 

Sebelum mengakhiri tausiyahnya, Habib Ali berpesan untuk tidak menyia-nyiakan umur. “Umur itu Cuma satu” ungkap beliau. Dipenghujung tausiyahnya, Habib Ali berdo’a mudah-mudahan Allah menjadikan perempuan-perempuan (istri) kita menjadi seperti istri-istrinya Nabi dan menjadikan kita semua seperti halnya sahabat nabi.

 

Usai acara, Habib Ali bersama para habaib beranjak menuju dalem KH. Muhammad Subadar. Tampak hadir ialah Habib Jamal (Malang), Habib muda yang terkenal akan keluasan ilmunya. Hingga pada akhirnya tibalah saatnya bagi Habib Ali untuk beranjak meninggalkan Pondok Pesantren Besuk. Santri-santri pun mendekat bersalaman mengharap barokahnya. Ilal Liqo’ ya Habib Ali.